Launching SMART KRISNA, Pengukuhan dan Kongres Satu FPRB Kabupaten Banyumas

Launching SMART KRISNA, Pengukuhan dan Kongres Satu FPRB Kabupaten Banyumas

Pemerintah Kabupaten Banyumas terus menunjukkan komitmen nyata dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui peluncuran inovasi SMART KRISNA (Sinergi Masyarakat Kurangi Risiko Bencana). Inovasi ini diwujudkan melalui pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banyumas dengan melibatkan enam unsur pentahelix: Pemerintah, Masyarakat, Akademisi, Dunia Usaha, Media, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO).

Pengukuhan FPRB dilaksanakan di Ruang Smart Room Graha Satria dan dilakukan langsung oleh Bupati Banyumas, Bapak Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M. Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat dibebankan hanya pada satu lembaga atau sektor tertentu. Pendekatan kolaboratif lintas sektor dan lintas generasi melalui model hexahelix dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun jejaring yang kuat dan berkelanjutan.

Setiap unsur dalam model hexahelix diyakini memiliki kekuatan dan kapasitas yang, jika disinergikan, mampu membentuk kolaborasi yang efektif dan responsif dalam menghadapi potensi bencana. Pembentukan FPRB juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008.

Forum ini dibentuk sebagai wadah koordinasi nonformal yang memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan penanggulangan bencana secara menyeluruh. Kehadiran FPRB bukan hanya sebagai simbol komitmen, melainkan juga sebagai strategi konkret dalam membangun masyarakat dan wilayah yang tangguh terhadap bencana. Forum ini diharapkan menjadi mitra penting pemerintah daerah dalam aspek mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Bapak Budi Nugroho, S.STP., M.Si menyampaikan bahwa pembentukan FPRB bertujuan membangun pola koordinasi multisektor yang efektif dalam upaya pengurangan risiko bencana. Keterlibatan aktif seluruh unsur dianggap penting untuk memperkuat kolaborasi dan mempercepat tercapainya tujuan Banyumas sebagai daerah yang tangguh terhadap bencana.

Pengurangan risiko bencana dipandang sebagai urusan kemanusiaan yang membutuhkan sinergi dan keharmonisan antar pemangku kepentingan. Melalui FPRB dan inovasi SMART KRISNA, Kabupaten Banyumas menegaskan posisinya sebagai daerah yang adaptif dan responsif terhadap tantangan kebencanaan di masa depan.